Sabtu, 11 Mei 2013

Tak Mampu Menolak Kebenaran Islam

Hj. AGA AJU NITYA D. SE. MM.
KAGUMI KONSEP SHOLAT 5 WAKTU

Berawal dari keinginan untuk membekali anak-anaknya dengan pendidikan agama yang baik, membuat Hj Aga Aju Nitya D. SE MM tertarik pada Islam. Dia meninggalkan agama lamanya dan menjadi islam sebagai pedoman hidup. Berikut curhatnya pada wartawan NURANi, Rohmah Hidayati.
SEBENARNYA saya tidak pernah terbayang sedikitpun untuk memeluk agama Islam. Karena keluarga saya pemeluk agama Hindu yang taat. Dari kecil saya juga dididik untuk taat kepada agama nenek moyang saya itu. Hingga akhirnya ketika hidup saya berubah, saya bercerai dengan suami pertama. Saat itulah, saya berpikir untuk melirik Islam. Meskipun keluarga saya Hindu, namun lingkungan tempat tinggal saya banyak yang Muslim. Saya merupakan orang yang berpikiran praktis dan simpel. Saya ingin anak saya tumbuh menjadi anak yang bermoral, maka saya meranggapan anak-anak tersebut harus memiliki dasar agama yang baik.
TERTARIK ISLAM
Sebagai single parent saya tidak mempunyai waktu untuk mendidik mereka secara langsung. Butuh orang lain yang harus mengajar anak saya itu. Tetapi di agama Hindu, saya belum menemukan seorang pemuka agama yang dapat diundang untuk mengajar secara privat. Berbeda dengan agama Islam, yang sangat mudah mengaksesnya.
Dengan dasar pemikiran yang simpel bahwa semua agama tentunya mengajarkan kebaikan, maka saya memilih Islam dengan alasan agama ini mudah sekali mengaksesnya. Mulai dari melihat pengajian di TV, mendengarkan radio, dari buku bahkan bisa membeli kaset maupun VCD. Tidak hanya itu banyak juga pengajian-pengajian yang mengupas tentang materi keagamaan. Karena hal itu belum saya temukan dalam agama yang saya anut sebelumnya.
Akhirnya saya dan kedua anak saya, Gede Rajendra Darma (15) dan Made Santrupti Brahmi (11) masuk Islam. Kontan saja keputusan saya ini sangat ditentang oleh keluarga besar saya. Mulai orang tua, kakak dan adik beserta saudara lainnya memusuhi tindakan saya tersebut. Karena dalam sejarah keturunana keluarga kami, tidak ada yang menjadi mualaf, kecuali bude saya, dan sekarang saya sendiri.
Meskipun mulanya hanya tertarik karena Islam mudah di akses, namun semakin mendalami agama ini, saya semakin jatuh cinta. Karena saya lebih dapat menerima ajaran-ajaran yang ada dalam Islam, seperti konsep ketuhanannya, yang menyembah satu Tuhan Allah. Sehingga akan saya benar-benar bisa menerima bahwa Tuhan inilah yang sesunguhnya saya harapkan, dengan tanpa niatan untuk merendahkan agama lain beserta konsep ketuhanannya. Saya orang yang menghormati kepercayaan orang lain. Meskipun saya menganggap Islam benar, namun saya tidak ingin menyalahkan ajaran lain.
KONSEP SHALAT FARDHU
Selain dari beberapa media massa serta buku, saya juga belajar Islam pada seorang ustadah. Darinya saya lebih mengenal Islam sehingga bertambah kecintaan saya pada agama samawi ini. Saya merasakan betapa beruntungnya orang yang memeluk Islam. Dia bisa bertemu dengan Tuhannya lima kali dalam sehari semalam.
Bayangkan saja, ketika dalam waktu antara Subuh dan Lohor (Dluhur) melakukan dosa, maka pada waktu Lohor bisa menebusnya. Begitu juga bila melakukan kesalahan selepas salat Lohor, pada saat Asar bisa menebusnya, begitu seterusnya. Ternyata Tuhan orang Islam sangat baik, karena memberikan waktu yang demikian banyak kepada hamba-Nya. Belum lagi dengan salat-salat sunah lainnya.
Saya begitu kagum pada Islam. Hingga akhirnya saya bertemu dengan pria yang menurut saya memiliki latar belakang agama Islam yang baik. Karena keluarganya sudah bergelar haji semua, maka saya memutuskan menikah dengan dia. Namun, harapan saya itu tidak terwujud. Suami yang saya harapkan dapat membimbing saya, ternyata semakin menipiskan keimanan saya. Bagaimana tidak, dia tidak pernah menafkahi saya meskipun saya tidak mengharapkan uang darinya. Namun, sebagai istri saya juga menginginkan dinafkahi oleh suami. Yang lebih menyakitkan lagi, ketika suami hidup satu rumah dengan mantan istrinya, saya merasa hal ini tidak dapat ditolerir lagi.
Saya sudah menawari pada suami untuk berpoligami saja, saya siap dimadu dengan mantan istri pertamaya, namun hal itu ditolaknya. Karena kelakukan suami dan keluarganya yang kurang bisa menerima saya itu, keluarga saya semakin membenci Islam. Bahkan yang semula mereka sudah mulai menerima keputusan saya memlih Islam, semakin membenarkan anggapan mereka bahwa Islam bukanlah agama yang tepat untuk saya pilih.
BANYAK UJIAN
Saya begitu kecewa dengan suami dan keluarganya, bahkan saya pun sempat kecewa dengan Tuhan. Saya yang masih membutuhkan banyak bimbingan untuk lebih mengenal Islam, malah ditelantarkan. Saya sempat protes pada Allah dengan meninggalkan salat. Namun alhamdulillah akhirnya saya disadarkan kembali oleh ustadah yang membimbing saya itu.
Bukan Islam yang salah, tetapi sayalah yang salah, karena bertemu dengan orang-orang yang kurang tepat. Akhirnya saya bertekat untuk menggugat cerai suami, karena dia tidak mau mengakui Arinanda Kesuma (3) buah pernikahan saya dengan dia.
Saya kembali lagi pada ibu saya yang tinggal di daerah Kenjeran, saya sudah menantang suami saya itu untuk melakukan tes DNA, untuk membuktikan bahwa Nanda adalah anaknya. Namun dia tetap keukeu dengan pendirianya itu. Sehingga anak saya hingga saat ini tidak ada yang mengakui anak. Padahal ayahnya jelas-jelas mantan suami saya itu.
Saat ini saya masih berjuang agar hidup saya lebih settle, saya ingin segera menyelesaikan program S-3 saya yang di Malaysia. Dan juga segera menyelesaikan akademi kebidanan yang saya ikuti saat ini. Untuk menghidupi ketiga anak saya, saya rela bekerja apa saja, bahkan saya pernah menjadi pramugari, dosen, wartawan, dan lainya.
Saat inilah saya hanya berharap, semoga Allah memberikan kekuatan kepada saya, saya tidak ingin keimanan saya goyah lagi. Jika saya masih mendapat jodoh lagi, saya ingin memilki suami yang benar-benar bisa menjadi imam bagi saya dan anak-anak saya. Sehingga, saya dan anak-anak dapat memeluk Islam dengan aman dan utuh. 04/mah/Tabloidnurani.