Sabtu, 30 November 2013

Keindahan Bahasa Dan Ketelitian Redaksi Al-Qur`an


Keindahan Bahasa Dan Ketelitian Redaksi Al-Qur`an Banyak pakar baik dari Arab sendiri
maupun dari Barat yang mengakui keindahan bahasa Al-Qur`an.









Berikut kami kutipkanbeberapa pendapat mereka:

George Sale yang merintis penerjemahan Al-Qur`an ke dalam bahasa Inggris menulis
dalam kata pengantar terjemahannya,
antara lain. ..
Al-Qur`an ditulis dalam bahasa Arab dengan gaya yang indah dan paling tinggi
yang tidak dapat ditiru oleh pena manusia.

 Oleh karena itu, Al-Qur`an mukjizat yang besar.

Berbekal mukjizat Al-Qur`an Muhammad muncul menguatkan tugas sucinya.
Dengan mukjizat itu beliau menantang ribuan sastrawan
Arab yang cakap untuk menciptakan satu ayat saja yang dapat dibandingkan dengan gaya
Al-Qur`an. Pada bagian lain kata pengantarnya, ia menulis.

 "Sangat luar biasa dampak kekuatan kata-kata (Al-Qur`an) yang dipilih dengan baik
dan ditempatkan dengan seninya,
 yang dapat menumbuhkan gairah dan rasa kagum orang yang membacanya.



"Musthofa Shodiq Ar-Rofi`ie, seorang sastrawan Arab yang masyhur mengakui,
antara lain.
"Tuhan menurunkan Al- Qur`an dalam bahasa ini (Arab, pen) dengan susunan
 tersendiri, membuat orang tidak berdaya menirunya, baik susunan (ayat- ayatnya, pen)
 yang pendek maupun yang panjang.
 ...Karena dia adalah pembersihan bahasa dari kekotorannya."

Dr. Thoha Husein, sarjana Mesir yang sangat terkenal di dunia Barat mengakui.
 "Kata-kata terbagi tiga, yakni puisi, prosa, dan Qur`an. Akan tetapi Qur`an
 memiliki gaya tersendiri, bukan puisi dan bukan prosa. Qur`an adalah Qur`an.
 Ia tidak tunduk pada aturan prosa dan puisi.
Ia memiliki irama sendiri yang
dapat dirasakan pada susunan lafalnya dan urutan ayatnya."
Tentu saja hanya orang yang memahami bahasa Arab yang dapat merasakan keindahan
bahasa Al-Qur`an.



 Sebagaimana ditegaskan oleh Dr. M. Quraish Shihab dalam bukunya
 Membumikan Al-Qur`an, bahwa tidak mudah untuk mengetahui keindahan bahasa Al-Qur`an
khususnya bagi kita yang tidak memahami dan tidak memiliki "rasa bahasa" Arab.
Sebab keindahan diperoleh melalui "perasaan", bukan melalui nalar. Namun demikian,
 menurut M. Quraish Shihab ada satu atau dua hal menyangkut redaksi Al-Qur`an yang
dapat membantu pemahaman aspek pertama ini.

"Seperti diketahui, seringkah Al-Qur`an "turun" secara spontan, guna menjawab pertanyaan
 atau mengomentari peristiwa. Misalnya pertanyaan orang Yahudi tentang hakikat ruh.
 Pertanyaan ini dijawab secara langsung, dan tentunya spontanitas tersebut tidak memberi
peluang untuk berpikir dan menyusun jawaban dengan redaksi yang indah apalagi teliti.

Namun demikian setelah Al-Qur`an rampung diturunkan dan kemudian dilakukan analisa
 serta perhitungan terhadap redaksi-redaksinya, ditemukan hal-hal yang sangat menakjubkan.
 Ditemukan antara keseimbangan yang sangat serasi antara kata-kata yang digunakannya,
 seperti keserasian jumlah dua kata yang bertolak belakang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar